Jumat, 28 Januari 2011

Perjalanan Sang Missionaris dari kota Tegal


PERJALANAN SANG MISSIONARIS
DARI KOTA TEGAL
ASAL-USUL KOTA TEGAL
Konon di jaman Ki Gede Sebayu melakukan pertapaan di tepian sungai di desa Muara Tua. banyak kisah-kisah dari orang tua yang menceritakan tentang seorang pertapa suci terdampar di desa Muara Tua. yang kini desa tersebut sudah menjadi sebuah Kelurahan Muara Reja. setelah di tahun 1988 Desa Muara Tua masuk pengembangan wilayah kota madya Tegal. pertamanya desa tersebut termasuk sebuah kecamatan sumur panggang kabupaten Tegal. Menurut catatan sejarawan Prof. Dr. Abu Su'ud. dalam hasil karyanya yang di berjudul Semangat Orang-Orang Tegal. diceritakan pada tahun 1580.
Awalnya kota Tegal itu termasuk wìlayah Kabupaten Pemalang. termasuk yang mengakui Kabupaten Pajang. kemudian cucu pangeran Banowo yang bernama Ki Gede Sebayu. meninggalkan pemalang menuju Desa Tegal dan memperluas desa Tegal hingga menjadi sebuah Kota. anaknya yang bernama Ki Honggowono ikut membantu dalam membuat saluran air sawah yang berasal dari Kali Gung. saluran air tersebut sangat membantu kemakmuran para petani di daerah ini dan daerah yang lain pun ikut subur. lambat laun desa tegal penduduknya semangkin padat. dan akhirnya Ki Gede Sebayu wafat. di Desa Danawari di Kec: Balapulang. dan di makamkan di tepian Kali Gung. dan anaknya Ki Honggowono. setelah meninggal dunia di makamkan di dukuh Karang Tempel. desa Kali Soka. Kec: Dukuh Waru Kabupaten Tegal.
Kembali ke daerah Muara reja. jadi sebutan Muara Tua berarti sudah ada sejak zaman Ki Gede Sebayu melakukan pertapaan. meskipun beliau pernah bertapa di tempat tersebut akan tetapi sampai sekarang orang-orang tidak tahu tempat pertapaannya yang asli. tetapi di desa Muara Tua terdapat makam orang suci, seperti Mbah Kramat. lokasinya di dukuh Muara Tua. sedang Mbah Tambak Jati dan Mbah Maya lokasinya berada di padukuhan Anyar. tepatnya sekarang Martoloyo. kira-kira di tahun delapan puluhan desa Muara Tua sempat terkenal. karna nuansa desa nelayan yang sangat kental. apa lagi jalan desa pada saat itu belum di aspal di kanan kiri tumbuh lebat pohon Widara. ( buah yang menyerupai buah apel tapi kecil). listrikpun belum ada maklun karena Muara Tua tergolong desa tertinggal. tapi karena ada tempat lokalisasi Barasyid. di namakan Barasyid sebab pemilik tempat tersebut bernama Abah Rasyid. maka dari itu desa mara tua menjadi ramai karena banyak hidung belang yang datang ketempat tersebut bahkan dari berbagai daerah.
Saat itu Mara Tua, desa penuh pesona, baik keindahan pantainya yang alami maupun keluguan warganya, rata-rata penduduknya nelayan, para wanitanyapun di jaman dulu kalau di sore hari banyak yang memakai kemben. atau kain tapih yang cuma menutupi di bagian dada sampai lutut. lantaran di setiap penduduk belum memilik sumur, sehingga jika penduduk mandi pagi maupun sore hari selalu mandi di tempat sumur umum yang tempatnya di belakang rumahnya (Bekel) atau sekarang menjadi Lurah. para nelayan tradisional dengan alat tangkap jaring klitik dengan (jukung) perahu kecil. menjadi pemandangan yang sangat menarik. apa lagi kalau sore hari. nampak nelayan menjahit jaring yang rusak, di sampingnya alunan musik tarling dari salah satu stasiun radio. dan di tambah minuman khas dari Tegal Teh Poci gula batu karo udude srutu.
Kini muara tua yang penuh dengan misteri, seperti kuburan Kristen Jawa, dengan Gereja tua peninggalan jaman belanda, atau tempat petilasan orang suci yang diyakini warga setempat sebagai Mbah Kramat. Mbah Maya. dan Mbah Tambak Jati. masih menyimpan sejuta misteri, namun orang-orang Muara reja sendiri jarang yang mengerti tentang asal-usul tempat-tempat tersebut. bahkan tak perduli terhadap tempat bersejarah tersebut. meskipun kegiatan tradisi menaruh kembang atau sesaji kemakam tersebut tapi mereka rata-rata tidak tahu siapa sebenarnya dan dari mana asal usulnya orang suci itu, bahkan hampir setiap tahun masyarakat nelayan di Muara reja selalu menggelar upacara adat. sedekah bumi dan sedekah laut. Upacara tradisi itu diyakini oleh masyarakat nelayan sebagai upacara tolak balak. untuk mengusir segala musibah dan kejahatan dari roh-roh jahat.
Tradisi atau adat sedekah bumi atau sedekah laut yang sudah diadakan dari jaman nenek moyang hingga kini masih di lestarikan oleh masyarakat pesisir di tanah jawa. tradisi ini ajaran dari animisme dan dinamisme. suatu ajaran yang meyakini bahwa tiap benda mempunyai kekuatan ghoib. memang sebelum agama Islam masuk di tanah jawa sudah ada lebih dulu bersemayam ajaran Hindu dan Budha. sehingga sebagian masyarakat hingga kini masih susah untuk meninggalkanya. seperti menyiapkan sesajì pada malam jumat, menyebar kembang setaman di setiap perempatan jalan, menyekar kekuburan tapi tidak mengerti tata cara ziarah kubur, dan ada juga mereka meminta rezeki dari kuburan, meskipun hampir setiap tahun nelayan selalu menggelar sedekah laut. tak jarang musibah di lautpun sering terjadi, bagi masyarakat nelayan orang meninggal di laut, adalah hal yang sudah biasa. sebenarnya sudah ada upaya agar merubah tujuan dan tradisi tersebut. namun para orang tua masih mempertahankan agar tradisi sedekah laut tetap diadakan.
SUYONO SANG MISSIONARIS
Pagi itu senin (17/1/2011) seperti biasa saya memulai aktivitas harian setelah shalat shubuh, saya bersama istri tercinta mulai menyiapkan persiapan untuk bekal hari itu, baik kebutuhan untuk kami berdua maupun untuk anak-anak. Tepat pukul 06. 30 saya bersiap diri untuk berangkat ke tempat kerja yakni di SMP Al Irsyad Tegal, di lembaga itu saya diamanahi sebagai tenaga pengajar mata pelajaran pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.
Sekitar pukul 06.50 sepeda motor sayapun memasuki gerbang SMP Al Irsyad, dengan penuh rasa optimis dan percaya diri saya langkahkan kaki dengan mantap menuju ruang guru di sekolah tersebut. Tepat pukul 07.00 bell sekolahpun berbunyi, saya bersama dewan guru dan karyawan serta siswa-siswi SMP Al Irsyad langsung menuju ke tempat wudhu untuk bersuci dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat sunah dhuha bersama (bukan berjama’ah). Setelah shalat dhuha kami warga SMP Al Irsyad kembali menuju tempat masing-masing untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar sebagaimana biasanya, sedangkan saya sendiri pada hari itu tidak mengajar dan kesempatan ini akan saya gunakan untuk mengadakan wawancara dengan teman saya terkait dengan  kristenisasi yang terjadi di kota Tegal.
Kira-kira  pukul 09.30 saya menuju parkir sepeda motor SMP Al Irsyad dan langsung meluncur menuju ke tempat tinggal teman saya yang bernama  Siti Ubaidah, S.Ag beliau adalah salah seorang staff pengajar di sebuah sekolah dasar di kota Tegal teman dari tokoh Missionaris yang bernama Suyono, 15 menit kemudian sayapun sampai dilokasi dan langsung bertemu dengannya, maka sayapun mulai menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan saya. Setelah saya menyampaikan tujuan dan maksudnya, maka beliau (Siti Ubaidah) mulai bercerita tentang sang Missionaris Suyono tersebut.
Suyono adalah seorang pria kelahiran Kendal pada tanggal 06 Juli 1958, ia dibesarkan dari keluarga muslim yang taat beribadah tutur Siti Ubaidah mengawali ceritanya, sejak kecil ia kategori anak yang hormat dan bakti kepada kedua orang tuanya serta taat beribadah kepada Allah, ia juga termasuk anak yang lumayan cerdas ini dibuktikan dengan nilai raportnya yang selalu masuk 10 besar dari mulai sekolah  dasar hingga tingkat menengah. Namun malang nasib Suyono,  ia harus menerima takdir Allah, karena bapaknya meninggal dunia saat ia sedang duduk di bangku SMP, maka setelah menamatkan sekolahnya (SMP) ia  mengikuti ibunya hijrah ke kota Tegal, setelah ibunya menikah dengan orang Tegal yang beragama Kristen. Iapun melanjutkan pendidikannya di SPG (sekolah pendidikan guru) di Tegal hingga lulus dan akhirnya bekerja sebagai staff pengajar di sebuah sekolah dasar di kota Tegal.
Waktupun bergulir begitu cepat, hingga akhirnya Suyono diangkat sebagai PNS,  kemudian menikah dengan seorang gadis Tegal yang beragama Kristen, lambat laun namun pasti keislaman Suyono mulai goyah, ia berada dilingkungan yang tidak islami lagi, ia mulai meninggalkan kewajibannya sebagai muslim, ia tinggalkan shalat dan sebagainya. Sampai akhirnya Suyono masuk Kristen, tuturnya. Yang mengherankan lagi kata Siti Ubaidah setelah Suyono masuk kristen kehidupannya berubah menjadi 180% tidak seperti sebelumnya. Ia menjadi orang yang serba kecukupan dan terpenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tambah memantapan keyakinannya dalam menapaki kehidupannya sebagai seorang kristen.
Ditengah kemajuan ekonomi yang dialami Suyono ternyata menimbulkan kecurigaan teman sekantornya dan belakangan  diketahui bahwa ia adalah  seorang Missionaris. Dengan agamanya yang baru itu, Suyono mulai rajin mendalaminya ia tidak segan-segan datang ke rumah pendeta untuk lebih mendalam wawasan kekristenannya, sampai akhirnya ia dikenalkan dengan seorang Missionaris dari Bandung Jawa Barat. Lewat perkenalannya itulah, kemudian Suyono mendirikan sebuah lembaga pendidikan gratis di pesisir pantai Tegal yang diperuntukan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu, mereka para siswa mendapat pakaian seragam, alat-alat tulis secara gratis.
Misinya pun berhasil dan dengan kemahirannya dalam bergaul ia mulai megajak teman-temannya yang muslim termasuk Siti Ubaidah untuk menjadi staff pengajar dengan iming-iming honor yang fantastis, tutur Siti Ubaidah. Namun Siti Ubaidah tidak mau bergabung bersamanya, dikarenakan dirinya khawatir terjerumus dalam rayuan Suyono. Jam menunjukan pukul 11.45 akhirnya sayapun bertanya pada bagian akhir tentang perjalanan Suyono sang missionaries. Siti Ubaidah menceritakan kembali bahwa saat ini aktivitas Suyono dalam membawa misi agama Kristen mulai mengendur, disebabkan karena ia ditipu oleh missionaries dari Bandung. Dana yang sudah dijanjikan untuk melaksanakan misinya dibawa kabur oleh missionaries tadi. Sampai disini saya mengakhiri wawancara dengan siti Ubaedah, namun sebelumnya dia telah memberikan salah satu nama seorang pengajar staff dari Suyono yaitu Sarmin.
Jam di hp saya menunjukan pukul 12.00, setelah shalat dhuhur saya melanjutkan perjalanan ke tempat dimana Sarmin bekerja untuk memperoleh keterangan terkait dengan sekolah gratis yang didirikan oleh Suyono dalam rangka missinya. 15 menit kemudian sayapun sampai di lokasi tersebut, namun sayang ia tidak ada ditempat, ia sedang keluar untuk satu urusan kata pa kebun sekolah itu. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggunya.  Kira-kira 30 menit saya menunggunya,  setelah beberapa kali saya menghubungi lewat hpnya namun ia tidak mengangkatnya, akhirnya saya memutuskan kembali ke SMP Al irsyad karena saya harus mengajar pada jam ke 7 dan 8 yakni pukul 12.30 sampai 13.30. sayapun pamitan kepada pa kebun sekolah tersebut.
Selasa siang (18/1/2011) sekitar pukul 10.00 saya kembali datang ke sekolah dimana sarmin bekerja untuk menemuinya, namun perjalanan saya sia-sia karena ia tidak berada ditempat dan beberapa kali saya menghubungi lewat hpnya namun tidak ada hasilnya. Maka saya putuskan untuk sementara saya hentikan dulu misi saya ini dan di lain waktu akan saya lanjutkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh misi kristenisasi yang  terjadi di Kota Tegal dan sekitarnya.
Wassalam terima kasih…………………..


                       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar